Jakarta–Institute of Development Economic and Finance (Indef) menyatakan  perekonomian Indonesia sepanjang semester I-2013 telah mengalami berbagai gejolak yang turut mempengaruhi capaian kinerja kebijakan yang telah dilakukan pemerintah. Bahkan, terdapat beberapa faktor fundamental yang harus segera ditangani.

Ekonom Indef Enny Sri Hartati mengatakan, hasil Indef atas kinerja perekonomian Indonesia menunjukkan ada sejumlah isu mendasar yang harus segera diselesaikan oleh pemerintah agar perekonomian tetap tumbuh pada koridor yang sudah ditargetkan dan dapat berkontribusi besar dalam menciptakan tingkat kesejahteraan yang lebih baik.

“Evaluasi ini dimaksudkan untuk menganalisis capaian-capaian indikator perekonomian pada semester I-2013″, kata Enny, dalam Seminar Kajian Tengah Tahun (KTT) INDEF 2013, dengan tema “Formulasi Kebijakan Ekonomi dan Politik Menjelang Pemilu 2014″, di Jakarta, Selasa, 2 Juli 2013.

Hasil evaluasi ekonomi semester I-2013 yang dimaksudkan, pertama, tekanan sektor moneter mengalami peningkatan. Angka inflasi sudah mulai meninggi dari awal 2013, dan akan kembali meninggi seiring penaikan harga BBM dan semakin dekatnya hari raya lebaran.

Kedua, peranan stimulus fiskal semakin hilang. Perubahan 2013 tidak menjamin adanya peningkatan kesejahteraan. Yang terjadi justru target penerimaan negara diturunkan, tax ratio turun, defisit keseimbangan primer naik, dan kualitas penyerapan belanja rendah.

“Kesemuanya ini berujung pada ruang fiskal yang tetap rendah, sehingga daya stimulasi kebijakan dalam mendorong perekonomian juga rendah”, jelas Enny.

Ketiga, hilangnya tradisi surplus pada neraca perdagangan membuat upaya menciptakan pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan semakin tidak mudah dilakukan. Sejauh ini nilai tambah produk-produk ekspor Indonesia masih rendah.

Keempat, peningkatan investasi yang masih didominasi oleh sektor capital intensive dan berbahan baku impor tinggi membuat urgensi untuk menjadikan investasi sebagai lokomotif utama pertumbuhan ekonomi semakin sulit terealisasi.

Kelima, belum berkembangnya industri bahan baku dan industri penunjang di dalam negeri berakibat pada lemahnya keterkaitan antara industri hulu dan hilir, sehingga mendorong besarnya ketergantungan kepada impor bahan baku.

Keenam, disisi keuangan, peranan pembiayaan perbankan terhadap dunia usaha belum optimal. Secara makro, alokasi kredit perbankan masih tergolong rendah, rasio kredit terhadap PDB baru sekitar 30%. Meskipun penyaluran kredit secara keseluruhan meningkat, namun masih berkutat pada sektor non tradable (75%).

Ketujuh, implikasi dari berbagai kendala yang menjadi isu mendasar perekonomian Indonesia di atas adalah pertumbuhan ekonomi yang melambat. Upaya peningkatan kesejahteraan tidak terelasiasi secara nyata. Tingkat pengangguran terbuka. Rasio gini juga cenderung meningkat.

“Harus diakui bahwa terdapat beberapa faktor fundamental yang harus segera ditangani guna merealisasikan target pembangunan yang sudah ditetapkan”, ungkapnya. (*)

Sumber: infobanknews.com dan solopos.com – 2 Juli 2013

Indef

The Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) is an independent and autonomous research and policy studies institution established on August 1995 in Jakarta

Leave a Reply

Close