Merdeka.com – Direktur Institut Pengembangan Ekonomi dan Keuangan (INDEF), Enny Sri Hartati, mengatakan ketergantungan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) pada bahan bakar minyak (BBM) dan fosil lainnya sebagai bahan baku pembangkit listrik menyusahkan rakyat. Sebab, harga BBM masih dimungkinkan mengalami kenaikan.

Dengan meningkatnya harga bahan baku tersebut, akan mempengaruhi kenaikan tarif dasar listrik (TDL) di Indonesia.

“Seperti tahun 2015, untuk porsi batu bara berapa, gas berapa, BBM berapa, kemungkinan besar tarif terus mengalami kenaikan dan jumlah produksi PLN juga bisa lebih tinggi. Ini semua yang akan mempengaruhi tarif,” kata Enny dalam Diskusi Energi Kita yang digelar merdeka.com, RRI, IJTI, IKN, DML dan Sewatama di Gedung Dewan Pers, Jakarta, Minggu (6/12).

Dia menjelaskan, pengguna listrik untuk daya 1.300-2.200 VA berjumlah sekitar 9 juta orang dari kelas menengah. Sementara itu, pendapatan penduduk kelas menengah setara dengan Upah Minimum Provinsi, yaitu Rp 2 juta.

“Yang mempunyai listrik 1.300 kira-kira punya penghasilan berapa sih. Orang menengah dan rata-rata pendapatan terbesar itu berkisar USD 5-7. Kalau UMP Rp 2 juta, artinya 1 bulan mereka membayar listrik dikisaran Rp 500 ribu sudah 10 persen dari rumah tangga,” imbuhnya.

Dia menyarankan kepada pemerintah agar adanya transparansi dari PLN dengan memberikan peringatan utilitas atau kapasitas pemakaian kepada masyarakat.


Sumber: http://www.merdeka.com/

  • Berita/Post
Indef Administrator
, Indef
The Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) is an independent and autonomous research and policy studies institution established on August 1995 in Jakarta
follow me

Leave a Reply

Close