Direktur Eksekutif Institute National Development and Financial (Indef), Enny Sri Hartati, berpendapat kondisi pertumbuhan perekonomian Indonesia sejak 2013 hingga sekarang terus mengalami penurunan.

“Kami dari Indef mengatakan kondisi perekonomian kita sudah kritis. Kalau orang sakit sampai kritis memang harus mendapat penanganan yang betul-betul konkret. Karena akibat kritis bisa dead or life. Perlu suatu penangan intensif, kalau dibiarkan ekonomi kita bisa mati,” kata Enny di acara diskusi terbuka di bilangan Cikini, Jakarta, Sabtu 29 Agustus 2015.

Merosotnya nilai rupiah terhadap dolar AS, dianggapnya mirip dengan kondisi perekonomian Indonesia pada saat krisis moneter pada 1998. Kendati demikian, kata dia, pada 1998 Indonesia memiliki dewa penyelamat yang membuat tetap bertahan dan bahkan pulih meskipun nilai tukar dolar AS kala itu menembus angka Rp17.000.

“Jadi saat itu kita masih bisa menerima berkahnya dari komoditas ekspor yang masih terus berjalan walaupun perekonomian terus melemah. Selain itu UMKM, kita pun masih berjalan baik saat itu,” ujar Enny.

Oleh karenanya, Enny berharap agar pemerintah segera menindaklanjuti dan meninjau lebih dalam mengenai polemik yang sedang dihadapi Indonesia saat ini, mengingat sektor penunjang ekonomi terbesar yakni UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) dinilai sudah sangat lesu.

“Nah hari ini, UMKM kita sebelum dolar menyentuh angka Rp14 ribu sudah terkapar duluan. Ini bukan hanya UMKM yang komoditas impor, komoditas lokal pun sudah hancur terlebih dahulu,” kata Enny. (ase)

Sumber: http://bisnis.news.viva.co.id/

  • Berita/Post
Indef Administrator
, Indef
The Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) is an independent and autonomous research and policy studies institution established on August 1995 in Jakarta
follow me

Leave a Reply

Close