Pasar cenderung bereaksi negatif terhadap hasil hitung cepat pemilu legislatif kali ini, perolehan suara PDI Perjuangan yang di bawah perkiraan menjadi faktor lesunya perdagangan, kata pengamat.

Indeks harga saham gabungan (IHSG) anjlok 3%, menjadi penurunan terbesar sejak beberapa bulan terakhir.

Sementara itu, menurut data Bloomberg, nilai rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga turun 68 poin menjadi Rp11.357.

Sejumlah pengamat mengatakan negatifnya perdagangan hari ini didorong oleh Klikhasil hitung cepat pemilu legislatif yang tidak sesuai harapan, yaitu menempatkan partai oposisi bergambar banteng itu dengan perolehan sekitar 19% saja.

“Investor berharap banyak bahwa suara PDI Perjuangan bisa naik 25% sehingga Jokowi bisa dicapreskan dan wakilnya yang relatif bisa dipilih, tidak perlu harus berkoalisi,” kata ekonom Lana Soelistianingsih dari Samuel Sekuritas.

Dengan peta kekuatan yang ada, Lana menduga ada banyak kekhawatiran mengenai Kliksiapa koalisi dan pasangan Jokowi nantinya.

“Cawapresnya ini jadi pertaruhan baru bagi PDIP, apakah bisa meyakinkan publik jika calon presiden bisa melengkapi kondisinya Jokowi,” sambungnya.

Pasar memihak?

Sikap pasar yang cenderung memberikan respon terhadap Jokowi dan partainya mengesankan bahwa pasar memang memihak satu kubu dalam pemilihan umum berlangsung.

Ketika KlikJokowi dicalonkan sebagai presiden dari PDI Perjuangan misalnya, pasar bereaksi sangat positif.

Perdagangan saham yang seharian berada di zona merah ketika itu, langsung melejit sekitar 3% atau 142 poin menjadi 4.869 di akhir-akhir perdagangan, menyusul pengumuman pencapresan yang dilakukan sore hari.

Namun bagi Kepala Ekonom Bahana Securities Budi Hikmat, pasar pada dasarnya tidak pernah memihak kubu tertentu dalam politik. Satu-satunya yang mendorong reaksi pasar hanyalah “harapan”.

“Pasar bergerak berdasarkan harapan, apakah sesuai yang diharapkan dan lebih baik, karena hari ini tidak sesuai harapan (responnya menjadi negatif. Ini kan bergerak dari euforia (saat pencalonan) dan reality bites(kenyataan), tetapi ke depan banyak sekali dinamika.”

“Pasar itu partisipan demokrasi yang independen, pragmatik, spontan dan kadang bengis. Mereka punya ekspektasi dan pertanyaannya apakah harapannya terwujud atau tidak?” jelas Budi Hikmat.

Lalu bagaimana menanggapi pasar yang cenderung reaktif ini?

Ekonom INDEF, Enny Sri Hartati berharap reaksi pasar ini hanya dipandang sebagai salah satu fenomena pesta demokrasi saja, tetapi tidak dijadikan faktor yang menentukan pemimpin rakyat nantinya.

“Pasar keuangan, pasar modal, dan investasi asing ini kan sebetulnya pengikut. Hak prerogatif untuk menentukan pemimpin adalah rakyat Indonesia, jangan dibalik bahwa pemimpin dipilih berdasarkan pasar.”

Sumber: BBC Indonesia

  • Berita/Post
Indef Administrator
, Indef
The Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) is an independent and autonomous research and policy studies institution established on August 1995 in Jakarta
follow me

Leave a Reply

Close