Jakarta–Ekonom INDEF Imaduddin Abdullah menyebut, selama ini fiskal daerah tidak berjalan dengan sehat. Karena itu, meskipun anggaran perimbangan daerah dalam APBNP 2015 dinaikkan, hal ini tidak akan berdampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi.

Dalam diskusi bertema “Mengawal Nawacita: Analisa Kritis Terhadap APBNP 2015″, Imaduddin menyebutkan bahwa selama ini hampir 63% pendapatan APBD berasal dari dana perimbangan pemerintah pusat. Di wilayah Indonesia timur, bahkan porsi dana perimbangan daerah mencapai 69%. Sedangkan pendapatan lain seperti dari pendapatan asli daerah, justru hanya berkontribusi kecil, sekitar 10-20%. Padahal, belanja APBD mereka sebagian besar habis digunakan untuk belanja pegawai. Sehingga praktis, fiskal pemerintah daerah tidak sehat.

“Karena itu, kalaupun tahun ini dana perimbangan daerah ditambah Rp20,8 triliun, ini harus dilihat lagi. Apa pemerintah sudah melakukan feasibilty study (studi kelayakan) bagaimana daerah atau desa akan mempergunakan hal ini,” sebut Imaduddin, di Jakarta, Selasa, 24 Februari 2015.

Pemerintah, disarankan Imadudin, justru seharusnya mengurangi dana perimbangan daerah agar ketergantungan daerah terhadap pusat semakin berkurang. Hal ini bisa dilakukan dengan mendorong pendapatan asli daerah khususnya dengan meningkatkan rasio perpajakan di daerah. “Kualitas belanja daerah juga harus ditingkatkan agar bisa produktif dan bisa menonjokan keunggulan daerah,” tambahnya.

Dalam APBNP 2015, pemerintah menganggarkan alokasi dana transfer ke daerah dan dana desa menjadi sebesar Rp643,8 triliun. Angka tersebut meningkat Rp17,6 triliun dibanding alokasi dalam APBN 2015 sebesar Rp638 triliun. Langkah ini sejalan dengan program Nawacita yang ditargetkan pemerintah yaitu meningkatkan peran daerah dan desa dalam pembangunan ekonomi nasional. (*)

Sumber: http://www.infobanknews.com/

  • Berita/Post
Indef Administrator
, Indef
The Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) is an independent and autonomous research and policy studies institution established on August 1995 in Jakarta
follow me

Leave a Reply

Close