Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat menggelar sidang kabinet
paripurna di Kantor Presiden mengatakan, menteri terkait harus sekuat
tenaga menjaga stabilitas harga dan inflasi yang disebabkan karena
pangan.

“Jangan kita menunggu sampai harga bergejolak kembali, tapi mari kita
pastikan kecukupan suplai, terutama sekali lagi pangan,” kata Presiden
di Jakarta, Kamis (16/1).

Presiden mengatakan situasi ekonomi Indonesia masih belum aman karena
masih perlu meminimalisasi tekanan akibat gejolak ekonomi global.
Selain itu perlu ada perbaikan baik dari sisi perlambatan pertumbuhan,
pelemahan nilai tukar hingga defisit neraca berjalan.

“Kekhawatiran ekonomi tahun lalu akan memburuk tidak terjadi. Tapi
situasi belum aman sehingga kita harus kelola dengan sebaik-baiknya,”
katanya.

Presiden juga mengingatkan perlunya penciptaan lapangan kerja baru
untuk mengurangi angka pengangguran. Dia juga berharap pembangunan
infrastruktur yang sudah ada dalam program Masterplan Percepatan dan
Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) harus dilaksanakan.
“Dari situ dapat dilaksanakan seperti yang telah direncanakan. Tentu
penyerapan tenaga kerja memerlukan kontribusi dari sektor industri,
pertanian, dan jasa,” katanya.

Waspadai Ancaman Pelemahan

Ekonom Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Latief Adam
mengatakan pemerintah harus mewaspadai berbagai ancaman yang dapat
mengganggu laju inflasi ke arah yang lebih besar dari target capaian
pemerintah sebesar 5,5 persen. Sebab ekonomi Indonesia dihadapkan pada
sentimen bersifat permanen dan temporer.

“Ancaman inflasi di tahun ini lebih dipengaruhi sentimen yang
bersifat permanen yaitu pelemahan nilai tukar rupiah,” kata Latief.

Menurutnya, rupiah hingga Kamis (16/1) melemah 0,2 persen (dod) namun
menguat 0,4 persen (mtd) di level Rp 11.118 per dolar AS. Rupiah juga
masih bertengger di level Rp 12.075 – Rp 12.126 Masalah lain adalah
perhelatan pemilu yang akan berpengaruh terhadap iklim investasi.

“Dari faktor internal, pelaku pasar juga tengah menunggu hasil
pemilihan umum (pemilu), sehingga lebih memilih untuk menunda investasi
di Indonesia,” katanya.

Di samping itu, ancaman lain berasal dari inflasi akibat bencana yang
sering terjadi di seluruh wilayah Indonesia baik banjir maupun letusan
gunung berapi. Sebab kontributor utama inflasi berasal dari pangan.
“Kalau saya tidak salah hitung, ada sekitar 45 persenan. Jadi 1 persen
inflasi itu, sebesar 0,46 persen disebabkan oleh pangan,” katanya.

Meski ada kecenderungan inflasi tinggi, ia berharap ada panen raya di
Maret-April sehingga akan menambah pasokan pangan. “Panen raya akan
menyelamatkan inflasi, tapi harus direspon cepat,” katanya.

Dari sisi eksternal, lanjut Latief, masih penuh dengan ketidakpastian
dari kebijakan pengurangan stimulus Amerika Serikat. “Meski Januari
mulai dilakukan tapering off, tapi itu dilakukan secara bertahap, belum 100 persen, ini yang bahaya,” jelasnya.

Kepala Ekonom Bank Internasional Indonesia (BII) Juniman mengatakan,
tekanan inflasi pada Januari 2014 akan didorong oleh kenaikan
harga-harga barang sebagai dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap
dollar AS yang sudah mulai berlangsung pada tahun lalu.

Juniman memproyeksikan, inflasi pada Januari 2014 di kisaran 0,8-1
persen yang didorong dari pelemahan nilai tukar rupiah dan gangguan
produksi pada sentra pangan di sejumlah daerah.

“Kenaikan harga barang baru terasa di bulan ini karena gangguan
sentra produksi pangan di sejumlah wilayah dan kenaikan harga elpiji,”
katanya.

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance
(Indef) Enny Sri Hartati mengatakan, pemerintah harus tanggap dengan
kondisi cuaca ekstrim yang terjadi akhir-akhir ini. Kondisi ini sangat
rawan pada lonjakan harga produk pertanian dan palawija.

Dengan daya tahan yang relatif pendek, hambatan distribusi akan
membuat bahan makanan membusuk. Ujungnya kelangkaan dan kekurangan
suplai akan membuat harga semakin melambung.
“Selama komoditas pangan relatif stabil, dampaknya tidak akan terlalu
besar pada inflasi, kecuali ada perubahan kenaikan harga BBM. Tapi
bayang-bayang harga pangan melonjak karena adanya kenaikan Tarif Dasar
Listrik (TDL),” jelasnya. | Caca Casriwan.

Sumber: hariannasional.com

  • Berita/Post
Indef Administrator
, Indef
The Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) is an independent and autonomous research and policy studies institution established on August 1995 in Jakarta
follow me

Leave a Reply

Close