Melambatnya kinerja perekonomian global, pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga Triwulan III-2012 mencatatkan diri sebagai nomor dua di Asia. Cemerlangnya pertumbuhan ekonomi ini juga diikuti oleh kinerja indikator ekonomi lainnya. Namun, gemilangnya kinerja makro ekonomi Indonesia sepanjang 2012 tersebut terasa rapuh, karena tidak segera tertransmisikan pada perbaikan tingkat kesejahteraan masyarakat secara nyata. Masih tingginya pengangguran dan kemiskinan, serta melebarnya ketimpangan disebabkan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang kurang berkualitas.

Pertumbuhan ekonomi masih bertumpu pada sektor-sektor yang kedap terhadap penyerapan tenaga kerja, sehingga meminimkan daya fungsinya dalam mengurangi jumlah pengangguran. Pemerintah memiliki kesempatan untuk memperbaiki masalah kemiskinan, pengangguran dan ketimpangan ekonomi yaitu salah satunya melalui formulasi APBN agar penggunaannya lebih efektif dalam meningkatkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat. APBN harus mampu menstimulasi perekonomian melalui komposisi belanja pemerintah yang selama ini lebih banyak dihabiskan untuk pos-pos yang kurang produktif.

Pengeluaran terbesar Pemerintah Pusat sejauh ini lebih digunakan untuk belanja subsidi, belanja pegawai, dan pembayaran bunga utang. Akibatnya, postur APBN yang sebagian besar sudah tersandera oleh anggaran-anggaran rutin tersebut membuat ruang gerak fiskal tidak maksimal. Oleh karena itu, diperlukan perubahan fundamental pada struktur APBN agar ruang fiskal (fiscal space) dapat diperbesar.

Diskusi Bulanan INDEF – EFEKTIVITAS APBN DAN KESENJANGAN EKONOMI

Indef

The Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) is an independent and autonomous research and policy studies institution established on August 1995 in Jakarta

Leave a Reply

Close