Sindonews.com – Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Enny Sri Hartati meragukan hasil pemantauan Badan Pusat Statistik (BPS), yang menyebut deflasi pada April mencapai 0,1 persen. Dia bahkan mengaku bingung dengan metodologi yang digunakan untuk menghitung angka deflasi tersebut.

“Sebenarnya kalau dilihat kayaknya aneh karena ini artinya beban ekonomi yang berasal dari bahan makanan turun. Tapi kan penurunan harga ini berasal dari daerah. Sedangkan merujuk harga-harga komoditas di Jakarta, saya jadi ragu dengan metodologi BPS,” ujarnya ketika dihubungi Sindonews, Rabu (1/4/2013) malam.

Dia mengaku, sering memeriksa harga-harga komoditas di pasar wilayah Jakarta dan kenyataannya rata-rata harga komoditas masih cukup tinggi, kecuali harga bawang yang turun hingga Rp40 riu per kilogram (kg).

“Saya mencoba percaya dengan data BPS, mungkin penurunan ada di daerah secara signifikan. Sedangkan di Jakarta, saya perhatikan justru sebenarnya sandang minusnya itu sebesar 1,13 persen secara keseluruhan,” lanjutnya.

Dia mengaku, sebenarnya dalam hitung-hitungannya, inflasi bulan April malah akan melonjak hingga 0,4 persen. Dia juga memberi catatan harga buah-buahan sebenarnya masih sangat tinggi hanya saja media selama ini terlalu fokus memPostskan bawang saja.

“Padahal buah-buahan, seperti apel per kg saja sempat menyentuh angka Rp60 riu, anggur per juga sempat menyentuh angka Rp120 riu per kg. Saya melihat kemarin bawang ini terlalu overexposed, jadi yang diPostskan hanya bawang-bawang saja,” keluhnya.

Enny berharap, ke depannya tata niaga hortikultura segera diperbaiki karena pada dasarnya inflasi hortikultura bukan karena nonteknis. “Inflasi bahan makanan ini permasalahannya jelas ada di tata niaga yang harus diperbaiki,” pungkasnya.


Sumber:sindonews.com, Sindonews.com – Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Enny Sri Hartati meragukan hasil pemantauan Badan Pusat Statistik (BPS), yang menyebut deflasi pada April mencapai 0,1 persen. Dia bahkan mengaku bingung dengan metodologi yang digunakan untuk menghitung angka deflasi tersebut.


“Sebenarnya kalau dilihat kayaknya aneh karena ini artinya beban ekonomi yang berasal dari bahan makanan turun. Tapi kan penurunan harga ini berasal dari daerah. Sedangkan merujuk harga-harga komoditas di Jakarta, saya jadi ragu dengan metodologi BPS,” ujarnya ketika dihubungi Sindonews, Rabu (1/4/2013) malam.

Dia mengaku, sering memeriksa harga-harga komoditas di pasar wilayah Jakarta dan kenyataannya rata-rata harga komoditas masih cukup tinggi, kecuali harga bawang yang turun hingga Rp40 riu per kilogram (kg).

“Saya mencoba percaya dengan data BPS, mungkin penurunan ada di daerah secara signifikan. Sedangkan di Jakarta, saya perhatikan justru sebenarnya sandang minusnya itu sebesar 1,13 persen secara keseluruhan,” lanjutnya.

Dia mengaku, sebenarnya dalam hitung-hitungannya, inflasi bulan April malah akan melonjak hingga 0,4 persen. Dia juga memberi catatan harga buah-buahan sebenarnya masih sangat tinggi hanya saja media selama ini terlalu fokus memPostskan bawang saja.

“Padahal buah-buahan, seperti apel per kg saja sempat menyentuh angka Rp60 riu, anggur per juga sempat menyentuh angka Rp120 riu per kg. Saya melihat kemarin bawang ini terlalu overexposed, jadi yang diPostskan hanya bawang-bawang saja,” keluhnya.

Enny berharap, ke depannya tata niaga hortikultura segera diperbaiki karena pada dasarnya inflasi hortikultura bukan karena nonteknis. “Inflasi bahan makanan ini permasalahannya jelas ada di tata niaga yang harus diperbaiki,” pungkasnya.

Indef

The Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) is an independent and autonomous research and policy studies institution established on August 1995 in Jakarta

Leave a Reply

Close