Metrotvnews.com, Jakarta: Pengajuan penaikan harga
bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi sebesar Rp1.500 menjadi Rp6.000 per
liter dalam RAPBN Perubahan 2013 dinilai hanya menjadi solusi tambal
sulam yang tidak menyelesaikan masalah.

“Penghematannya hanya sekitar Rp30 triliun. Sementara kompensasi yang
dibutuhkan sudah hampir Rp25 triliun. Itu baru bantuan langsung tunai
(BLT), belum yang lain. Kalau manajemen seperti itu, berarti kebocoran
di sini tertambal, muncul kebocoran di sisi lain,” ujar Direktur Indef
Enny Sri hartati ketika dihubungi, Kamis (9/5).

Penaikan harga BBM, kata dia, tidak akan berdampak banyak pada perbaikan
perekonomian. “Itu tidak efisien, mending tidak usah naik. Kalau
manajemen tambal sulam tidak akan berefek ke perekonomian. Apa yang
selama ini kita harapkan tidak ketemu,” keluhnya.

Ia menekankan, pengurangan subsidi tidak sekadar untuk menyelesaikan
persoalan BBM. Tetapi juga untuk mengefektifkan stimulus fiskal. Alokasi
anggaran seharusnya untuk mendorong stimulus fiskal. Misalnya untuk
membangun infrastruktur energi di luar BBM supaya tidak ada persoalan
energi lagi di masa datang.

“Ini juga luar biasa kalau untuk peningkatan pembiayaan UMKM, proyek
padat karya dan pembenahan infrastruktur. Sehingga ekonomi biaya tinggi
yang dikeluhkan dunia usaha bisa dikurangi,” tukasnya. (Nurulia Juwita
Sari)

Sumber: Metronews.com – Kamis, 9 Mei 2013

Indef

The Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) is an independent and autonomous research and policy studies institution established on August 1995 in Jakarta

Leave a Reply

Close