Pengamat Ekonomi dari INDEF Aviliani menilai pemerintah perlu kembali membentuk badan penghitung produktivitas buruh, bertugas membantu pemerintah dalam menetapkan upah minimum yang saat ini menjadi polemik antara buruh dan pengusaha. “Mungkin tidak perlu membentuk badan tersendiri, tapi ada di bawah Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemenakertrans). Badan itu akan menghitung berapa produktivitas (buruh) pada industri-industri,” katanya pada forum diskusi tentang prediksi isu ekonomi yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) di Jakarta, dikutip Kamis (22/11/2012). Ia mengatakan, dulu pernah ada Badan Produktivitas Nasional yang melakukan penghitungan produktivitas setiap industri di dalam negeri sehingga ada ukuran produktivitas dalam penetapan upah buruh. “Karena sekarang tidak ada ukuran (produktivitas) dalam penetapan upah, maka antara pengusaha dan buruh saling tawar menawar (upah),” ujar anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) itu. 

Aviliani juga mengkritisi Undang-Undang Ketenagakerjaan yang terkesan tidak mendukung pengembangan industri padat karya, sehingga dunia usaha banyak yang mengambil jalan pintas menjadi pedagang atau importir dibanding membangun industri manufaktur yang melibatkan banyak pekerja. “Undang-Undang Ketenagakerjaan kita tidak memungkinkan kita punya banyak buruh. Pengusaha enakan impor, jualan selesai dan dapat untung,” tuturnya. Selain itu, ia menilai Undang-Undang Ketenagakerjaan juga lebih mendorong pengembangan sektor jasa yang membutuhkan keterampilan khusus. Padahal, kata dia, pemerintah perlu mendorong sektor industri terkait kebijakan untuk menghentikan ekspor bahan baku pada 2014. “Jadi dalam dua tahun ini pemerintah harus menyiapkan industri, kalau tidak bagaimana pada 2014 nanti, ketika larangan ekspor bahan baku diberlakukan,” ujarnya. 

  • Berita/Post
Indef Administrator
, Indef
The Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) is an independent and autonomous research and policy studies institution established on August 1995 in Jakarta
follow me

Leave a Reply

Close