Jakarta – Pola konsumsi
masyarakat Indonesia membuat inflasi terus meningkat. Salah satu solusi
yang ditawarkan untuk menurunkan inflasi bahan pangan adalah dengan
membuka keran impor dan swasembada pertanian.

“Untuk menekan terjadinya inflasi bahan pangan pokok untuk jangka
pendek dengan dilakukannya relaksasi impor, dan untuk jangka panjang
dapat dilakukan dengan swasembada pertanian (investasi, penyuluhan untuk
pengetahuan, dan promosi sebagai langkah pemasaran),” ujar Denni P.
Purbasari, Dosen FEB Universitas Gadjah Mada dalam diskusi publik GP
Ansor di Jakarta pada Rabu (24/7).

Menurut Denni, dalih pembatasan impor yang dilakukan pemerintah malah
akan menjadi “bumerang” untuk stabilitas perekonomian negara karena
kelangkaan barang yang tidak mampu dipenuhi pasar sedangkan tingkat
konsumsi masyarakat semakin tinggi apalagi menjelang lebaran tahun ini.
Kurangnya iklim persaingan usaha menjadi faktor yang cukup berpengaruh
meningkatnya inflasi harga pangan.

“Beberapa faktor utama yang mempengaruhi terjadinya inflasi adalah
upah minimum, kebijakan kenaikan harga BBM, kebijakan pembatasan impor
pangan dan holtikultura, serta swasembada sebagai solusi ketahanan
pangan,” ujar Denni.

Denni menambahkan, sentimen kebijakan anti-impor yang diusung
pemerintah saat ini menjadi faktor kelangkaan pasokan komoditas pangan
nasional. Pola konsumsi masyarakat khususnya perkotaan yang tidak
mengenal istilah substitusi, misalkan beras diganti dengan jagung atau
meredam penggunaan cabe dalam mengolah makanan menjadi alasan mengapa
inflasi saat ini meningkat karena kelangkaan komoditas di pasar.

“Masalah rantai distribusi yang panjang juga menjadi masalah yang
sampai saat ini belum mampu dipecahkan sehingga harga pangan dari petani
ke konsumen mengalami kenaikan yang tinggi,” ujar Ahmad Erani Yustika,
Dosen dan Ekonom dari Universitas Brawijaya dalam diskusi tersebut.

“Mungkin dengan memotong jalur distribusi yang sangat panjang, oknum
tengkulak dapat diredam perihal pengaruhnya dalam menentukan harga pasar
komoditi, selain itu porsi impor negara harus meningkat sehingga dapat
menekan inflasi,” ujar Diffi A. Johansyah, Direktur Eksekutif Komunikasi
Bank Indonesia dalam pertemuan yang digagas GP Ansor tersebut.

“Bulan Juli 2013 ini saja, Bank Indonesia memprediksi inflasi masih
berada di angka 2,38 persen, karena itu saya melihat perlu adanya
penataan ulang perekonomian secara komprehensif,” tambah Diffi.

Sumber: Postssatu.com

Indef

The Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) is an independent and autonomous research and policy studies institution established on August 1995 in Jakarta

Leave a Reply

Close