Masa depan dunia ada ditangan bangsa Asia-Afrika. Pandangan yang menyebutkan persoalan dunia hanya dapat diselesaikan Bank Dunia (World Bank ), Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank /ADB), dan Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund /IMF) adalah pandangan yang usang. 

Kritik keras terhadap tiga lembaga keuangan internasional itu menjadi salah satu inti pidato Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada pembukaan acara peringatan 60 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA). Selain itu, Presiden juga menekankan agar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) saatnya direformasi untuk berfungsi optimal sebagai badan dunia yang mengutamakan keadilan bagi semua bangsa. 

PBB dinilai tidak berdaya mengatasi ketidak seimbangan global yang menyesakkan dada. Lebih jauh, Presiden Jokowi berpendirian bahwa pengelolaan ekonomi dunia tidak bisa diserahkan kepada tiga lembaga keuangan tersebut. Karenaitu, presidenke-7RI itumendesakreformasiarsitektur keuangan global di mana dibutuhkan pimpinan global yang kolektif. 

Indonesia yang tumbuh sebagai kekuatan ekonomi baru siap memainkan peran global itu. Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, Presiden menyatakan Indonesia siap bekerja sama dengan berbagai pihak yang memiliki kepentingan bersama demi terwujudnya keadilan dan kesejahteraan dunia, khususnya di kawasan Asia-Afrika. Kritik Presiden terhadap lembaga keuangan dunia itu cukup telak. 

Di mata Direktur Eksekutif Institute Development for Economic and Finance (Indef) Enny Sri Hartati, keberadaan lembaga tersebut memang harus diperjelas. Kecenderungannya, kebijakan dari lembaga-lembaga itu lebih mengarahpada kepentingan negara-negara maju. 

Dia mencontohkan, pemberian utang dari lembaga tersebut sering kali disertai syarat yang memberatkan dan seolah mendikte. Akibatnya, tatanan ekonomi dunia menjadi tidak adil sebab negara miskin dan berkembang hanya menjadi objek tanpa daya. Kini saatnya negara-negara Asia-Afrika membangun aliansi agar dapat menentukan arah perekonomian global. 

Sebegitu pentingkah lembaga keuangan internasional itu harus dirobohkan? Ada baiknya sedikit membuka lembaran sejarah untuk melihat peran kehadiran lembaga itu. Bank Dunia sebuah lembaga keuangan internasional yang menyediakan pinjaman kepada negara berkembang sebagai program pemberian modal untuk mengurangi kemiskinan. 

Saat ini aktivitas Bank Dunia difokuskan pada bidang pendidikan, pertanian, dan industri. Meski dibutuhkan, Bank Dunia sering dikritik karena dianggap telah melemahkan kedaulatan negara penerima pinjaman melalui liberalisasi ekonomi. Semangat Bank Dunia senapas dengan ADB. Institusi finansial yang didirikan pada 1966 ditujukan untuk mengurangi kemiskinan di Asia-Pasifik.

 ADB yang beranggotakan puluhan negara berkantor pusat di Metro Manila, Filipina. Sementara itu, IMF bertanggung jawab dalam mengatur sistem finansial global dan menyediakan pinjaman kepada anggotanya, guna membantu masalah keseimbangan neraca keuangan setiap negara yang membutuhkan. Sebagai imbalannya, negara yang menerima bantuan diwajibkan menjalankan kebijakan tertentu, misalnya privatisasi badan usaha milik negara. 

Sebenarnya, peran Bank Dunia dan ADB tidak bisa diabaikan begitu saja meski dengan segala konsekuensi yang ditimbulkan. Tengok saja, pinjaman yang digelontorkan Bank Dunia pada negeri ini mencapai Rp182,81 triliun per Maret 2015, sedangkan pinjaman dari ADB tercatat Rp110,47 triliun per Maret 2015. 

Dalam hubungan dengan IMF, memang harus diakui Indonesia telah mengalami pengalaman ”traumatik” berkaitan pemulihan pascakrisis ekonomi pada 1998 lalu. Seruan Presiden untuk menggantikan peran ketiga lembaga internasional tersebut memang sebuah momentum yang tepat untuk menguji kesolidan para pemimpin negara-negara Asia-Afrika. 

Saatnya kawasan ini berperan dalam mengatur tatanan ekonomi global. Munculnya kekuatan ekonomi baru seperti China, India, Singapura, dan Indonesia adalah sebuah modal besar untuk mewujudkan cita-cita penggagas KAA. Kita berharap kesempatan berharga ini jangan sampai terlewatkan. Bibit untuk menguatkan perekonomian kawasan Asia-Afrika sudah mulai disemai. Para pelaku bisnis sepakat membentuk Asia- Africa Business Council.


Sumber: http://nasional.sindonews.com/

  • Berita/Post
The Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) is an independent and autonomous research and policy studies institution established on August 1995 in Jakarta
×
The Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) is an independent and autonomous research and policy studies institution established on August 1995 in Jakarta

Leave a Reply

Close